Senin, 25 Januari 2010

Gizi pada Penderita Hipertensi




Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang umum di negara berkembang. Hipertensi yang tidak segera ditangani berdampak pada munculnya penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung (Congestif Heart Failure – CHF), gagal ginjal (end stage renal disease), dan penyakit pembuluh darah perifer. Hipertensi sering disebut “a silent killer” sebab penderita hipertensi dapat saja tidak menunjukkan gejala hipertensi (asymptomatic) selama bertahun-tahun dan tiba-tiba mendapat serangan stroke atau jantung yang fatal. Meskipun tidak ada pengobatan untuk keadaan ini, tetapi tindakan prevensi dan manajemen dapat dilakukan untuk mengurangi insidensi dan kekambuhan penyakit.


Peningkatan kejadian penyakit kardiovaskuler (Cardiovasculer Disease – CVD) pada 2 dekade terakhir menyebabkan deteksi dini dan kontrol hipertensi ditingkatkan. Penekanan pada perubahan gaya hidup (lifestyle) berperan penting baik untuk mencegah hipertensi primer maupun manajemen hipertensi. Dari seluruh penderita hipertensi, 90-95%-nya adalah penderita hipertensi esensial atau hipertensi primer, yang penyebabnya tidak diketahui. Hampir bisa dipastikan disebabkan oleh banyak faktor, termasuk disfungsi ginjal. 5% penderita hipertensi merupakan hipertensi sekunder yang penyebabnya adalah penyakit lain, biasanya penyakit endokrin. Karena berkaitan dengan penyakti lainnya, hipertensi jenis ini dapat disembuhkan.


DEFINISI DAN KLASIFIKASI


Definisi umum hipertensi adalah apabila tekanan sistolik (SBP) adalah 140 mm Hg atau lebih, atau tekanan diastolik adalah 90 mm Hg atau lebih, atau pun kombinasi keduanya. Artinya, tekanan dalam pembuluh darah secara konsisten berada di atas normal. Hipertensi terjadi bila diameter arteri berkurang atau bila volume darah yang melalui arteri meningkat. Hipertensi sering merupakan gejala yang menyertai penyakit jantung, ginjal, dan ketidakseimbangan hormon. 


Gejala hipertensi tidak sama pada setiap orang. Gejala umumnya adalah sakit kepala, mudah marah, telinga berdengung, mata berkunang-kuang, sukar tidur, sesak napas, dan pusing. Akan tetapi gejala yang khas adalah sakit kepala yang dirasakan ada di sekitar tengkuk dan muncul di pagi hari dan mulai menghilang seiring dengan tingginya matahari. Ciri khas lain adalah sakit kepala berupa pusing yang tidak berdenyut tetapi terasa berat dan tegang.Berdasarkan Laporan ke-6 dari Joint National Committee on Detection, Evaluation, and treatment of High Blood Pressure (JNC VI) hipertensi diklasifikasikan pada tahapan / tingkatan (stage) berdasarkan risiko perkembangan penyakit kardiovaskuler (CVD). 



Tabel 1. klasifikasi tekanan darah pada usia dewasa (≥18 tahun)
Kategori
Tekanan Darah (mm Hg)
Sistolik



Diastolik
Optimal
<120
dan
<80
Normal
<130
dan
<85
Normal-tinggi
130 – 139
atau
85 – 89
Hipertensi









Stage I
140 – 159
atau
90 – 99
Stage 2
160 – 179
atau
100 – 109
Stage 3
≥180
atau
≥110
Keterangan:
Tekanan sistolik: tekanan darah yang terjadi saat jantung berkontraksi.
Tekanan Diastolik: tekanan yang terjadi saat jantung relaksasi atau saat darah masuk ke jantung. 





Kategori normal tinggi juga disertakan sebab mereka yang termasuk di sana tergolong berisiko tinggi terkena hipertensi primer dan penyakit kardiovaskuler. Hipertensi stage I (140-159 / 90-99 mm Hg) merupakan level yang paling tinggi prevalensinya pada orang dewasa. Dengan kata lain, kelompok ini adalah kelompok yang memiliki risiko infark pada myocardial (myocardial infarction) atau stroke. Tujuan klasifikasi adalah arbitrary karena setiap stage peningkatan tekanan datah adalah berhubungan dengan peningkatan insidensi CVD dan penyakit ginjal. Oleh sebab itu, normalisasi tekanan darah penting dilakukan bagi setiap stage hipertensi.






MORBIDITAS DAN MORTALITAS
Meskipun hipertensi sering terjadi asimptomatik (tanpa gejala), bukan berarti penyakit ini bisa disepelekan. Efek kronisnya dapat menyerang sistem kardiak (jantung), serebrovaskuler, dan renal (ginjal). 



Tabel 2. Manifestasi Hipertensi terhadap Organ Target
Sistem Organ
Manifestasi
Kardiak (jantung)
Secara klinis, elektrokardiografis, atau radiologis memperlihatkan bukti adanya penyakit pada arteri koroner; hipertrofi pada ventrikel kiri; malfungsi pada ventrikel kiri atau gagal jantung.
Akibat tekanan darah yang tinggi, jantung harus memompa darah dengan tenaga ekstra keras. Otot jantung akan semakin menebal dan lemah sehingga kehabisan energi untuk memompa lagi. Parahnya lagi apabila terjadi penyumbatan pembuluh akibat aterosklerosis. Gejalanya yaitu pembangkakan pada pergelangan kaki (swollen ankles), peningkatan berat badan, dan napas tersengal-sengal.

Serebrovaskuler
Serangan ischemic sementara atau stroke
Tekanan yang tinggi pada pembuluh darah otak mengakibatkan pembuluh darah sulit dilatasi sehingga aliran darah menuju otak kekurangan oksigen (hipoksia). Keadaan otak hipoksia ini mengakibatkan serangan yang disebut stroke. Pembuluh darah di otak juga sangat sensitif sehingga ketika semakin melemah maka menimbulkan pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah (stroke haemorrhagic).

Perifer
Ketiadaan satu atau lebih denyut nadi secara ekstrim (selain dorsalis pedis) dengan atau tanpa claudication yang sebentar-sebentar; aneurysm.
Renal
Serum creatinin >130 mcg/L (1,5 mg/dL); proteinuria (+1 atau lebih); micro-albuminemia.
Ginjal berfungsi untuk menyaring darah serta mengeluarkan air dan zat sisa yang tidak diperlukan tubuh. Ketika tekanan ginjal terlalu tinggi, pembuluh darah kecil akan rusak. Ginjal juga tidak mampu lagi menyaring dan mengeluarkan sisa. Umumnya, gejala kerusakan ginjal tidak segera tampak. Namun jika dibiarkan, komplikasinya menimbulkan masalah serius.

Retinopathy
Pendarahan (haemorrhages) atau penetesan darah, dengan atau tanpa papilledema.
Tekanan darah tinggi melemahkan bahkan merusak pembuluh darah di belakang mata. Gejalanya yaitu pandangan kabur dan berbayang.

Sumber: JNC V, Arch Intern Med 153:149, 1993.



Menurut AHA (2001) tekanan darah tinggi merupakan penyebab primer atau penyebab kontributor pada 227.000 kasus kematian dari 2 juta kasus kematian pada tahun 1999. Antara tahun 1989 dan 1999, tingkat kematian akibat hipertensi yang berhubungan dengan usia, meningkat menjadi 21%; kematian akibat hipertensi secara keseluruhan juga meningkat menjadi 46%. Tingkat kematian akibat hipertensi pada ras kulit hitam adalah 4 kali lebih tinggi daripada ras kulit puih. Atherosklerosis, penyebab CVD merupakan efek langsung hipertensi pada kegagalan organ. Pada pria usia baya, peningkatan 20% mm Hg pada SBP meningkatkan risiko kematian akibat CVD sebesar 60%. Akibatnya, 50% penderita hipertensi meninggal karena jantung koroner (Coronary Heart Disease – CHD), 33% karena stroke, dan 10-15% karena gagal ginjal. Stroke dan infark myocardial, juga berkontribusi dalam morbiditas hipertensi; antara 500.000 hingga 1 juta penderita setiap tahunnya.


Saat darah mengalir dengan tekanan tinggi, maka hal ini berpotensi merusak pembuluh darah dan menyebabkan penumpukan platelet yang kemudian membentuk mikrotrombi. Mikrotrombi ini menyebabkan lemak dan kolesterol tertahan dan menumpuk sehingga terbentuklah plak. Plak ini menyebabkan penurunan fleksibilitas pembuluh darah sehingga pembuluh darah sulit melakukan vaso konstriksi (menyempit) dan vaso dilatasi (meregang). Dengan demikian, laju aliran darah pun semakin berkurang dan tekanan darah semakin meningkat. Konsekuensinya timbul kerusakan dan gangguan pada organ-organ tubuh. 



Faktor-faktor yang mengindikasikan prognosis buruk hipertensi
Ras kulit hitam
Muda
Pria
DBP >115 mm Hg secara persisten
Merokok
Diabetes Mellitus
Hiperkolesterolemia
Obesitas
Mengkonsumsi alkohol berlebihan
Terlihat penyakit pada organ target



PENYEBAB HIPERTENSI
Tekanan darah merupakan fungsi dari output jantung yang dapat digandakan oleh resistensi perifer (resistensi pada pembuluh darah terhadap aliran darah). Diameter pembuluh darah secara nyata mempengaruhi tekanan darah. Ketika dimater pembuluh darah mengecil (seperti pada kasus atherosklerosis), maka terjadi peningkatan resistensi dan tekanan darah. Sebaliknya, ketika diameter pembuluh darah membesar (seperti pada terapi obat vasodilator), resistensi menurun dan tekanan darah menurun.


Banyak sistem untuk mengontrol homeostasis darah. Regulator utama adalah sistem syaraf simpatis (untuk kontrol jangka pendek) dan ginjal (untuk kontrol jangka pnajang). Sebagai renspon dalam penurunan tekanan darah, syaraf simpatis mengeluarkan noreepinephrine, suatu vasokonstriktor, yang membuat arteri kecil dan arteriola meningkatkan resistensi dan meningkatkan tekanan darah. Ginjal meregulasikan tekanan darah dengan mengontrol volume cairan ekstraseluler dan menyekresi renin yang dapat mengaktivasi sistem renin-angiotensin.


Ketika sistem regulasi terganggu, terjadilah hipertensi. Penyebab yang paling mungkin adalah sistem syaraf simpatis yang hiperaktif, sistem renin-angiotensin yang terstimulasi, pola makan rendah potassium/kalium, dan penggunaan obat golongan cyclosporine. Seluruh faktor ini menyebabkan terjadinya vasokonstriksi, yang berdampak pada ischemia atau perubahan pada arteri. Ada juga kemungkinan faktor neurohormonal dan intrarenal yang menyebabkan abnormal tekanan darah. Pada kebanyakan kasus hipertensi, terjadi peningkatan resisten perifer. Resistensi ini memaksa ventrkel kiri jantung meningkatkan usahanya dalam memompa darah ke seluruh sistem. Seiring waktu, terjadilah hipertrofi ventrikuler dan akhirnya terjadi gagal jantung bawaan (Congestif Heart Failure – CHF).


Sebagian besar hipertensi tidak diketahui secara jelas penyebabnya. Biasanya disebut dengan hipertensi primer, hipertensi esensial, atau hipertensi idiopatik. Akan tetapi ada beberapa hal yang mungkin menjadi faktor pendorong hipertensi, yaitu: faktor keturunan, hiperaktif susunan syaraf simpatik, sistem rennin-angiotensin, defek dalam ekstraksi natrium, peningkatan natrium dan kalsium intraseluler, dan faktor gaya hidup (kebiasaan makan, alkohol, dan rokok).


Ada pula jenis hipertensi yang telah diketahui penyebabnya, tipe ini disebut hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penggunaan estrogen, penyakit ginjal, kelebihan berat badan, kelebihan kolesterol (dislipidemia), dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.



FAKTOR RISIKO HIPERTENSI
1. Riwayat Kesehatan Keluarga (genetik)
Apabila ada di keluarga Anda seorang wanita yang berusia di bawah 65 tahun atau pria berusia di bawah 55 tahun menderita penyakit jantung, risiko Anda terkena hipertensi akan semakin besar.



2. Ras
Ras afro atau African-American memiliki tekanan darah yang cukup tinggi dibandingkan dengan ras caucasian (kulit putih). Mereka juga cenderung sensitif terhadap natrium. Umumnya, hipertensi menyerang mereka di usia muda. Oleh karena itu, mereka berisiko tinggi terhadap penyakit jantung, stroke, dan ginjal.



3. Kelebihan Berat Badan
Berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan darah pada kebanyakan kelompok etnik di semua umur. Menurut National Institutes for Health USA (NIH, 1998), prevalensi tekanan darah tinggi pada orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria dan 32% untuk wanita, dibandingkan dengan prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk wanita bagi yang memiliki IMT <25 (status gizi normal menurut standar internasional). Risiko perkembangan hipertensi pada obesitas adalah 2 kali lebih tinggi daripada orang dengan berat badan normal (JNC, 1993). Dua puluh hingga 30% hipertensi terlihat pada negara-negara yang memiliki prevalensi overweight tinggi. Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya. Penelitian firmingham menyebutkan bahwa setiap kenaikan 10% berat badan, maka terjadi peningkatan tekanan darah sebesar 7 mm Hg. Penelitin yang lain menyebutkan, rata-rata, setiap kenaikan berat badan 0,5 kg akan meningkatkan tekanan sistolik 1 mm Hg dan diastolik 0,5 mm Hg. Sementara Davis (1993) menyatakan bahwa pada pria, peningkatan 10% berat badan, maka tekanan darah akan meningkat sebesar 6,6 mmHg. Selain itu, kelebihan lemak tubuh dapat meningkatkan volume plasma, menyempitkan pembuluh darah, dan memacu jantung untuk bekerja lebih berat.


Perubahan fisiologis dapat menjelaskan hubungan antara kelebihan berat badan dengan tekanan darah, yaitu terjadinya resistensi insulin dan hiperinsulinemia, aktivasi syaraf simpatis dan sistem rennin-angiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal (Hall, 1994). Peningkatan konsumsi energi juga meningkatkan insulin plasma, dimana natriuretic potensial menyebabkan terjadinya reabsorpsi natrium dan peningkatan tekanan darah secara terus menerus. Penurunan berat badan resistensi vaskuler, total volume darah, output kardiak, dan aktivitas sistem syaraf simpatis; penekanan sistem rennin-angiotensin; dan meningkatkan resistensi insulin (NIH, 1998).


Sebagai bukti peningkatan prevalensi overweight di Amerika Serikat, manajemen berat badan merupakan usaha utama yang dilakukan oleh banyak orang, terutama perempuan. Intervensi untuk mencegah peningkatan berat badan sebaiknya dilakukan secara berkelompok sebelum mereka mencapai usia paruh baya. Pada wanita kulit hitam, usia dewasa merupakan usia kritis dalam intervensi ini. Screening BMI direkomendasikan dilakukan pada semua orang dewasa. BMI di bawah 30 merupakan cut off obesitas, dan disarankan konsultasi kepada ahli gizi. 


Identifikasi dini pada anak-anak yang berpotensi hipertensi juga disarankan. Komposisi lemak tubuh >25% pada anak laki-laki dan >30% pada anak perempuan, meningkatkan risiko hipertensi. Tujuan utama intervensi pada anak-anak adalah untuk mencegah adopsi gaya hidup yang salah (overweigt, konsumsi tinggi garam, dan pola hidup sedentary) yang berhubungan dengan perkembangan hipertensi. 




4. Usia
Bagi kebanyakan orang, peningkatan tekanan darah terjadi seseiring dengan bertambahnya usia. Bagi kaum pria, hal ini terjadi lebih cepat daripada kaum wanita. Pria cenderung memiliki tekanan darah tinggi saat usia 45-50 tahun, sedangkan wanita cenderung mengalami hipertensi setelah 7-10 tahun setelah menopause.



5. Sensitivitas terhadap Natrium/sodium
Studi di Fakultas Kedokteran Indiana (2001) menunjukkan bahwa ada golongan orang yang sensitif terhadap natrium, sehingga tekanan darahnya meningkat apabila mengkonsumsi diet tinggi natrium. Akan tetapi tidak ada standar sensitif natrium. Studi lainnya menunjukkan bahwa 30% orang Amerika yang menderita hipertensi disebabkan oleh tingginya konsumsi natrium. Oleh karena itu, National Research Washington menganjurkan bahwa kebutuhan minimal Natrium adalah 500 mg dan konsumsi maksimalnya adalah 2400 mg.


Terjadinya hipertensi karena konsumsi natrium juga mungkin dipengaruhi oleh genetik individu dan kerusakan fisiologis. Individu yang peka terhadap hipertensi mempunyai risiko tinggi jika mengkonsumsi natrium berlebihan. Orang yang ginjalnya tidak dapat berfungsi normal juga lebih sensitif terhadap natrium sebab ginjal tidak dapat mengekskresikan natrium ke urin dalam jumlah normal.



6. Rokok
Kebiasaan merokok dapat memperberat kerja jantung sehingga mendorong naiknya tekanan darah.



7. Alkohol
Konsumsi lebih dari 250 ml alkohol sehari dapat meningkatkan tekanan darah, melemahkan otot jantung, serta menyebabkan kegemukan dan atherosklerosis (penyempitan pembuluh darah). Akibatnya, mempercepat timbulnya penyakit jantung yang kebih parah.



8. Diabetes dan Dislipidemia
Kedua penyakit ini dapat mempercepat terjadinya atherosklerosis dan meningkatkan tekanan darah. 



PREVENSI PRIMER
The National High Blood Pressure Education Program (NHBPEP) adalah salah satu program prevensi yang paling sukses di abad 20. Melalui usaha-usaha edukasi, deteksi, kewaspadaan, dan treatment telah dikembangkan selama 30 tahun sejak kemunculannya. Perubahan-perubahan ini berkontribusi dalam penurunan mortalitas CVD pada periode tersebut.


Pencegahan primer terhadap hipertensi dapat meningkatkan kualitas hidup dan biaya dihubungkan dengan manajemen medis dan komplikasinya. Strategi kepada populasi adalah untuk menurunkan tekanan darah yang di atas normal tetapi masih belum sampai dapat dikatakan hipertensi. Penelitian cohort Framingham menunjukkan bahwa mereka yeng memiliki tekanan darah di atas normal berhubungan dengan peningkatan risiko CVD. Penurunan tekanan darah sebesar 3 mm Hg akan menurunkan risiko mortalitas stroke sebesar 8% dan CHD sebesar 5%. Orang-orang yang berisiko tinggi terhadap hipertensi sangat disarankan untuk mengubah gaya hidupnya menjadi gaya hidup sehat. Beberapa perubahan gaya hidup sangat penting dilakukan baik dalam mencegah maupun manajemen hipertensi.



Faktor risiko hipertensi
Tekanan darah normal-tinggi
Riwayat keluarga hipertensi
Ras African-american
Overweight
Konsumsi garam berlebihan
Kurang aktivitas (physical inactivity)
Konsumsi alkohol

Modifikasi gaya hidup untuk mencegah dan manajemen hipertensi
Turunkan berat badan apabila overweight
Batasi konsumsi alkohol sampai tidak lebih dari 30 ml ethanol (misalnya 720 ml bir, 300 ml anggur atau 60 ml whiskey) per hari untuk pria dan 15 ml untuk wanita dan orang dengan berat badan rendah
Tingkatkan aktivitas fisik aerobik 30-45 menit per hari
Turunkan konsumsi sodium (natrium) maksimal 2,4 g /hari atau 6 g NaCl
Pertahankan asupan potassium (kalium) 90 mmol/hari)
Pertahankan asupan kalsium dan magnesium untuk kesehatan
Berhenti merokok
Turunkan asupan lemak jenuh dan cholesterol untuk kesehatan cardiovaskuler






FAKTOR DIET/MAKANAN
Mengubah empat faktor yang dapat dimodifikasi bermanfaat dalam prevensi primer dan kontrol hipertensi. Empat faktor tersebut adalah overweight, tinggi konsumsi garam, konsumsi alkohol dan kurang aktivitas. Sebuah penelitian berupa intervensi 5 tahun terhadap pria dan wanita dengan tekanan darah normal (normotensive) menunjukkan bahwa perubahan lifestyle menurunkan insidensi hipertensi. 


Beberapa studi intervensi gizi, the Trials of Hypertension Prevention (TOHP) dan Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH) mendemostrasikan keberhasilan pencegahan hipertensi dan menurunkan tekanan darah orang dengan tekanan darah normal-tinggi. Pada studi TOHP, ditargetkan berat badan berkurang 4,5 kg atau juga dengan pembatasan sodium (target harian 80 mmol atau 80 mEq) menurunkan insidensi hipertensi. Akan tetapi, perubahan perilaku tidak dikaji lebih lanjut. Sementara penelitian dengan DASH menunjukkan bahwa diet tinggi buah-buahan, sayuran, dan produk susu nonlemak serta rendah rendah lemak total (Tabel 3), dapat menurunkan SBP rata-rata 6-11 mm Hg. Diet secara total lebih efektif daripada hanya diet dengan penambahan sayur dan buah. 



Tabel 3. Diet DASH*)
Kelompok Makanan
Porsi sehari
Ukuran saji
Contoh dan catatan
Signifikansi setiap kelompok
Serealia dan produk olahan
7 – 6
1 ptg Roti
1 ckr Sereal kering
½ ckr nasi, pasta
Roti gandum penuh, muffin, roti, sereal, oatmeal, kraker, pretzel tawar dan popcorn
Sumber utama energi dan serat
Sayuran
4 – 5
1 ckr sayur berdaun segar
½ ckr sayur matang
6 oz jus sayur
Tomat, kentang, wortel, kacang polong, brokoli, bayam, buncis
Buah
4 – 5
6 oz es jus
1 ptg sedang buah
¼ ckr buah kering
½ ckr buah segar, beku, atau kalengan
Pisang, kurma, anggur, jeruk, jus jeruk, jus anggur, mangga, melon, peach, nanas, strawberry.
Sumber utama potasium, magnesium, dan serat.
Susu dan produk susu rendah lemak atau tanpa lemak
2 – 3
8 oz susu
1 ckr yoghurt
1½ oz keju
Susu, yoghurt dan keju tanpa lemak (skim) atau rendah lemak (1%)
Sumber utama kalsium dan protein
Daging, unggas dan ikan
2 atau kurang
3 oz daging, unggas, atau ikan yang matang
Buang lemak yang terlihat pada daging; bakar, panggang, atau rebus sebagai pengganti goreng; buang kulit unggas
Sumber kaya protein dan magnesium
Kacang-kacangan, biji-bijan, dan kacang kering
4 – 5 / minggu
1/3 ckr atau 1½ oz kacang-kacangan
2 sdm atau ½ oz bijian
½ ckr kacang kering
Almond, kacang campuran, kacang tanah, walnuts, biji bunga matahari, lentil, dan kacang polong
Sumber kaya energi, magnesium, potasium, protein dan serat
Lemak dan minyak
2 – 3
1 sdt margarin rendah lemak
1 sdm mayonnaise rendah lemak
2 sdm saus salad ringan
Margarin rendah lemak, mayonnaise rendah lemak, saus salad ringan, minyak sayur (minyak zaitun, minyak jagung)
Selain lemak yang ditambahkan, perlu dipilih juga bahan makanan yang rendah lemak
Gula
5 / minggu
1 sdm gula
1 sdm jelly atau selai jam
½ oz jelly beans
8 oz air limun
Syrup, gula, jelly, selai jam, gelatin rasa buah, permen, fruit punch, sorbet, es krim
Pemanis termasuk bahan rendah lemak
Sumber: National Institutes of Health (NIH), National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI): The DASH diet, US Department of Health and Human Services, Public Health Services, NIH Publication No 99-4082, 1999.
*) Rencana diet dengan DASH berdasarkan 2000 kCal per hari. Jumlah porsi sehari bervariasi tergantung kebutuhan energi perorangan.




Tabel 4. Contoh Menu dengan Diet DASH
Bahan Makanan
Jumlah
Kebutuhan Saji
Sarapan
Jus jeruk
Susu rendah lemak 1%
Corn flakes (gula 1 sdt)
Pisang
Roti gandum penuh
(dengan 1 sdm jelly)
Margarin rendah lemak

6 oz
8 oz (1 ckr)
1 ckr
1 bh sedang
1 iris

1 sdt

1 porsi buah
1 porsi susu
2 porsi serealia
1 porsi buah
1 porsi serealia

1 porsi lemak
Makan Siang
Salad Ayam
Roti pita
Sayuran segar campuran:
Wortel dan seledri btg
Lobak
Daun selada
Keju mozarella skim
Susu rendah lemak 1%
Cocktail buah dengan syrup encer

¾ ckr
½ iris besar

3-4 potong panjang
2
2 lembar
1,5 potong (1,5 oz)
8 oz
½ ckr

1 porsi unggas
1 porsi serealia
1 porsi sayuran



1 porsi susu
1 porsi susu
1 porsi buah
Makan Malam
Ikan bakar bumbu rempah
Beras
Brokoli kukus
Tomat rebus
Salad bayam
Bayam
Tomat cherry
Timun
Saus salad italia rendah lemak
Roti gulung
Margarin rendah lemak
Melon (potong bentuk bola)

3 oz
1 ckr
½ ckr
½ ckr

½ ckr
2
2 iris
1 sdt

1 bh kecil
1 sdt
½ ckr

1 porsi ikan
2 porsi serealia
1 sayuran
1 sayuran
1 porsi sayuran



½ porsi lemak lemak

1 porsi serealia
1 porsi lemak
1 porsi buah
Snacks
Buah aprikot kering
Kue pretzel mini
Kacang campuran
Ginger-ale diet

1 oz (3/4 ckr)
1 oz (3/4 ckr)
1,5 oz (1/3 ckr)
12 oz

1 porsi buah
1 porsi serealia
1 porsi kacang
0
Sumber: Appel Lj et al: A Clinical of The Effects of Dietary Patterns on Blood Pressure, N Engl J Med 336:1117, 1997.



Diet DASH digunakan baik untuk mencegah maupun mengontrol tekanan darah tinggi. Keberhasilan mengadopsi metode ini membutuhkan perubahan perilaku: dua kali porsi sehari untuk buah, sayuran dan produk susu; 1 1/3 dari porsi sehari untuk daging sapi, daging babi, dan ham; 1½ porsi sehari dari penggunaan lemak, minyak dan salad dressing; dan 1¼ snack dan pemanis. Orang dengan intoleransi laktosa membutuhkan enzim laktosa buatan ataupun diatasi dengan cara yang lain. Assessment pasien dalam mengubah dan melibatkan pasien dalam pemecahan masalahan mereka, membuat keputusan, dan setting tujuan merupakan tindakan strategis dalam mempertahankan diet.


Konsumsi buah dan sayuran yang tinggi dalam diet DASH merupakan perubahan besar dalam pola hidup orang Amerika. Untuk mencapai 8-10 porsi, 2-3 porsi buah dan sayuran dikonsumsi setiap makan (Tabel 4). Pola diet DASH telah disesuaikan dengan pola gizi AHA (American Heart Assosciation). Anjuran porsi sehari untuk berbagai kalori dapat dilihat pada tabel 5. 


Tabel 5. Porsi Sehari untuk Diet DASH untuk berbagai kalori
Kalori
Serealia
Sayuran
Buah
Susu
Daging
Kacang
Lemak
1600
6
4
4
2
1
0,5
1
2000
8
5
5
3
2
1
2
2600
10
5
5
3
2
1
2
3100
13
6
6
4
2
1
3



LANGKAH-LANGKAH MENGATASI HIPERTENSI  
  • Menurunkan BB bila status gizi obesitas
Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya. Penelitian firmingham menyebutkan bahwa setiap kenaikan 10% berat badan, maka terjadi peningkatan tekanan darah sebesar 7 mm Hg. Penelitin yang lain menyebutkan, rata-rata, setiap kenaikan berat badan 0,5 kg akan meningkatkan tekanan sistolik 1 mmHg dan diastolik 0,5 mmHg. Sementara Davis (1993) menyatakan bahwa pada pria, peningkatan 10% berat badan, maka tekanan darah akan meningkat sebesar 6,6 mmHg. Oleh karen itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi. Selain itu, kelebihan lemak tubuh dapat meningkatkan volume plasma, menyempitkan pembuluh darah, dan memacu jantung untuk bekerja lebih berat.  
  • Mengontrol tekanan darah dalam batas normal

Kontrol tekanan darah seminggu sekali untuk mengetahui tekanan darah saat itu dan melakukan tindakan evaluasi. 
  • Mengurangi asupan natrium

Menurut penelitian hanya 20-50% pasien hipertensi yang sensitif garam. Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat anti hipertensi oleh dokter. 
  • Menurunkan intake cafein dan alkohol.

Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi. 
  • Meningkatkan intake calsium, kalium, magnesium

Kalsium
§ Hasil studi menunjukkan bahwa konsumsi Ca lebih sedikit pada kelompok hipertensi.
§ Penelitian oleh Bellisan, dkk. menunjukkan suplemen kalsium 1 g/hari pada orang dewasa sehat selama 5 bulan dapat menurunkan tensi.
§ Kebutuhan kalsium dewasa adalah: 500-800 mg / hari.
§ Sumber kalsium adalah susu, dan hasil susu. Serealia, kacang-kacangan, dan sayuran hijau juga merupakan sumber kalsium, tetapi bahan makanan ini mengandung banyak zat yang menghambat penyerapan kalsium seperti serat fitat, dan oksalat.
§ Kalsium dalam bahan makanan:
o Keju : 830 mg/ 100 g
o Teri kering : 600 mg/ 50 g
o Udang kering : 362,7 mg/ 30 g
o Ikan sarden (dengan tulang) : 354 mg/ 100 g
o Biji kedelai : 260 mg/ 100 g
o Kobis : 212 mg/ 100 g
o Yoghurt : 205 mg/ 180 g




Kalium
§ Suplemen kalium dapat menurunkan tensi (bila asupan natrium tinggi).
§ Kalium berfungsi sebagai diuretik (merangsang pengeluaran urin) sehingga pengeluaran natrium cairan meningkat
§ Kalium menghambat pengeluaran renin sehingga mengubah sistem renin angiotensin
§ Kebutuhan kalium adalah 1500 – 3000 mg / hari.
§ Diit tinggi kalium yaitu dengan memperbanyak buah dan sayur.
§ Sumber Kalium:
o Pisang: 790 mg/ 200 g
o Pepaya: 221 mg/ 100 g
o Kacang merah: 288 mg/ 25 g
o Kacang hijau: 283 mg/ 25 g
o Bayam: 635 mg/ 100 g
o Tomat: 235 mg/ 100 g
o Wortel: 245 mg/ 100 g



Magnesium
§ Magnesium berfungsi sebagai vasodilator pada koroner dan arteri periferal.
§ Hipomagnesemia (keadaan rendah magnesium) banyak terjadi pada hipertensi, sehingga membutuhkan dosis anti hipertensi lebih tinggi untuk mengontrol tensi.
§ Kebutuhan magnesium: 200-500 mg/hari
§ Sumber magnesium: sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, daging, susu, coklat dan teri
§ Suplemen magnesium bermanfaat pada penderita hipertensi dengan hipomagnesemia
§ Magnesium dalam bahan makanan:
o Oatmeal: 5 mg/ 100 g
o Tepung terigu: 4 mg/ 100 g


  • Meningkatkan aktifitas fisik

Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% daripada yang aktif. Pada penelitian Firmingham, aktivitas sedang-tinggi adalah bersifat protektif terhadapstroke (Kiely et al, 1994). Meskipun demikian masyarakat di dunia masih banyak yang memiliki gaya hidup sedentary.
Dua metaanalisis menunjukkan keuntungan dari berolahraga: Jalan-jalan dapat menurunkan tekanan darah ± 2 mm Hg, sementara latihan aerobik dapat menurunkan tekanan darah sistolik ± 4 mm Hg dan diastolik ± 2 mm Hg. Oleh karen aitu, aktivitas fisik meningkat dari rendah menjadi sedang, antara 30-45 menit sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.
Stop Hipertensi dengan Healthy Lifestyle!

1 komentar:

Anonim mengatakan...

stop hipertensi...chayoo...

Poskan Komentar